Radioandinabolivia.com, Perubahan suasana hati (mood swing) yang terjadi secara mendadak sering kali menjadi salah satu keluhan utama wanita yang memasuki masa perimenopause. Perimenopause sendiri merupakan fase transisi biologis menuju menopause penuh.
Meskipun gejalanya sangat umum felt, perubahan emosional ini tidak terjadi tanpa alasan. Penurunan cadangan sel telur serta ketidakseimbangan hormon menjadi pemicu utama, walau ada beragam faktor eksternal lain yang turut memengaruhi stabilitas mental seorang wanita pada fase ini.
Mekanisme Hormonal di Balik Gejolak Emosi Wanita
Sejak masa pubertas yang ditandai dengan menstruasi pertama (menarche), tubuh wanita berada dalam fase kematangan reproduksi yang matang. Namun, seiring bertambahnya usia, wanita akan melintasi fase transisi alami yang dikenal sebagai perimenopause.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis fertilitas, endokrinologi, dan reproduksi, Dr. dr. Kanadi Sumapradja, Sp.OG, Subsp. F.E.R., memaparkan bahwa penurunan fungsi biologis pada fase ini adalah hal yang wajar.
Dalam diskusi medis bertajuk “Masa Menopause Lebih Bahagia” yang digelar di Jakarta, dr. Kanadi menjelaskan:
“Itu mekanisme masa transisi. Akibat penurunan cadangan sel telur, kemudian terjadi perubahan pola siklus haidnya karena kegagalan untuk menghasilkan sel telur yang matang, berakibat terjadinya hormonal imbalance dan perubahan-perubahan.”
Ketidakseimbangan antara estrogen dan progesteron inilah yang secara langsung memengaruhi sistem saraf pusat di otak, sehingga berdampak pada regulasi emosi dan suasana hati harian.
Pengaruh Obat-obatan dan Faktor Eksternal Lainnya
Perlu dipahami bahwa ketidakstabilan suasana hati tidak bisa sepenuhnya disalahkan pada proses alami perimenopause semata. Dr. Kanadi menekankan bahwa mood swing juga bisa dipicu oleh konsumsi jenis obat-obatan tertentu yang mengintervensi keseimbangan hormon dalam tubuh.
Penggunaan medikasi yang menyebabkan penurunan kadar estrogen atau memicu dominasi hormon progesteron berpotensi tinggi memicu perubahan emosi yang mirip dengan gejala perimenopause.
Beberapa hal penting terkait variasi gejala pada wanita meliputi:
-
Multifaktor: Perubahan kondisi fisik maupun mental selalu dipengaruhi oleh lebih dari satu faktor (kombinasi biologis, gaya hidup, dan riwayat kesehatan).
-
Karakter Unik Tiap Individu: Tidak semua wanita akan mengalami derajat keparahan mood swing yang sama. Respon tubuh terhadap penurunan hormon sangat bervariasi antara satu wanita dan wanita lainnya.
Pentingnya ‘Coping System’ dalam Menghadapi Perubahan
Di samping penanganan biologis, aspek psikologis memegang peranan krusial dalam membantu wanita melalui masa perimenopause dengan nyaman. Kemampuan seseorang dalam mengelola tekanan emosional—atau yang dikenal sebagai coping system—menjadi kunci utama adaptasi.
Coping system adalah mekanisme pertahanan mental dan strategi personal yang digunakan seseorang untuk beradaptasi dengan kondisi fisik maupun psikologis yang baru.
Menurut dr. Kanadi, coping system tidak memiliki tolok ukur atau standar baku karena proses ini murni hasil dari pembelajaran hidup dan adaptasi individu. Efektivitas mekanisme ini sangat dipengaruhi oleh:
-
Pemahaman personal terhadap perubahan kondisi tubuh.
-
Dukungan emosional dari keluarga, pasangan, dan lingkungan sekitar.
-
Gaya hidup sehat serta manajemen stres yang baik.
Jika seorang wanita memiliki coping system yang matang dan adaptif, gejolak emosi yang muncul akibat fluktuasi hormon tidak akan berkembang menjadi gangguan kesehatan mental yang serius.
Kesimpulan: Menyikapi Transisi dengan Positif
Perimenopause adalah fase alami dalam roda kehidupan setiap wanita, bukan sebuah penyakit yang harus ditakuti. Mengerti pemicu biologis di balik mood swing serta membangun sistem pendukung (support system) dan pola adaptasi psikologis yang sehat akan membantu para wanita melewati masa transisi ini dengan lebih tenang, sehat, dan bahagia.
